Arsip untuk ‘Ranah Minang’ Kategori

h1

Asal Usul Minang Kabau

Juni 21, 2008

Orang-orang Majapahit tidak ketinggalan mencoba kecerdasan dan kecerdikan orang-orang dari Gunung Merapi ini. Pada suatu hari mereka membawa seekor kerbau besar dan panjang tanduknya, kecil sedikit dari gajah.

istanapagaruyung

Mereka ingin mengadakan pertandingan adu kerbau. Ajakan mereka itu diterima baik oleh kedua datuk yang tersohor kecerdikannya dimana-mana itu, yaitu Dt. Katumanggungan dan Dt. Parpatih Sabatang. Taruhannya adalah seperti dulu-dulu juga, yakni kapal pendatang dengan segala isinya, dan taruhan datuk yang berdua itu ialah kerajaan mereka sendiri.

Waktu tiba saatnya akan mengadu kerbau, setelah kerbau Majapahit dilepaskan di tengah gelanggang, orang banyak riuh bercampur cemas melihat bagaimana besarnya kerbau yang tidak ada tandingannya di Pulau Perca waktu itu.

Dalam keadaan yang menegangkan itu, pihak orang-orang negeri itupun mengeluarkan kerbaunya pula. Dan alangkah herannya dan kecutnya hati orang banyak itu melihat mereka mengeluarkan seekor anak kerbau. Anak kerbau itu sedang erat menyusu, dan orang tidak tahu, bahwa anak kerbau itu telah bebearapa hari tidak doberi kesempatan mendekati induknya.

Ketika melihat kerbau besar di tengah gelanggang anak kerbau itu berlari-lari mendapatkannya yang dikria induknya dengan kehausan yang sangat hendak menyusu. Dimoncongnya terikat sebuah taji atau minang yang sangat tajam. Ia menyeruduk ke bawah perut kerbau besar itu, dan menyinduk-nyinduk hendak menyusu. Maka tembuslah perut kerbau Majapahit, lalu lari kesakitan dan mati kehabisan darah.

Orang-orang Majapahit memprotes mengatakan orang-orang negeri itu curang. Kegaduhan pun terjadi dan hampir saja terjadi pertumpahan darah. Tetapi dengan wibawanya Dt. Katumanggungan dan Dt. Parpatih Nan Sabatang membawa orang-orang itu ke balai persidangan. Disanalah Dt. Parpatih Nan Sabatang menangkis tuduhan-tuduhan orang-orang Majapahit. Akhirnya orang-orang Majapahit pemgakui kealpaan mereka tidak mengemukakan persyaratan-persyaratan antara kedua belah pihak sebelum mengadakan pertandingan.

Sejak itu tempat mengadu kerbau itu sampai sekarang bernama Negeri Minangkabau. Dan kemudian hari setelah peristiwa kemenangan mengadu kerbau dengan Majapahit itu termasyhur kemana-mana, wilayah kekuasaan orang-orang yang bernenek moyang ke Gunung Merapi dikenal dengan Alam Minangkabau. Diceritakan pula kemudian rumah-rumah gadang diberi berginjong seperti tanduk kerbau sebagai lambang kemenangan.
(Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka -Minangkabau)-Cimbuak.Net

h1

Sumatera Barat Beli Asrama Mahasiswa di Mesir

April 30, 2008

Rabu, 16 Apr 2008 | 10:59 WIB

TEMPO Interaktif, Padang:

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat membeli asrama untuk mahasiswa Sumatera Barat di Mesir . Asrama yang terletak di Al-Tagammu¢ Al Awal New Cairo, 15 kilometer dari kampus Universitas Al Azhar dibeli melalui APBD 2008 senilai Rp 3 miliar.

Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi bersama Menteri Menteri Agama Maftuh Basuni, hari ini, meninjau lokasi asrama mahasiswa itu. “Gedung ini berlantai empat plus basement dengan luas tanah 320 meter,” kata Gamawan melalui pesan pendek yang dikirim pada Tempo.

Menurut dia, asrama itu dimaksudkan untuk mendorong peningkatan kualitas belajar mahasiswa Sumbar di Kairo. Mahasiswa asal Sumbar di Al Azhar berjumlah 408 orang. Mereka berprestasi lebih baik dari rata-rata mahasiswa Indonesia. “Kalau tingkat kelulusan mahasiswa Indonesia 35 persen, mahasiswa asal Sumbar mencapai 72 persen, ” ujar kata Gamawan.

Ia mengatakan, di Mesir mereka bisa menggali banyak hal tentang keislaman, karena Al Azhar sebagai universitas tertua dan negerinya para nabi adalah tempat berguru yang baik.

h1

BIM Terbaik ke-3 di Indonesia

April 30, 2008
TEMPO Interaktif, Jakarta :D epartemen Perhubungan menetapkan Hang Nadim, Batam, sebagai bandar udara terbaik dari aspek keselamatan, keamanan, dan pelayanan. Penetapan itu merupakan hasil audit tahap kedua yang dilakukan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Budhi Mulyawan Suyitno menjelaskan, Hang Nadim memenuhi (compliance) 93 persen total aspek yang dinilai, dan hanya tidak memenuhi (non compliance) 7 persen. “Ada 83 obyek yang dinilai,” jelasnya dalam rapat dengan Komisi Perhubungan Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta, Kamis (31/1).

Urutan sesudahnya adalah Sam Ratulangi (Manado), Minangkabau (Padang Pariaman), Adi Sutjipto (Yogyakarta) , dan Supadio (Pontianak). Audit tahap dua itu dilakukan dalam kurun waktu Oktober sampai November 2007.

[31 Januari 2008]